Jumat, 30 November 2018

GEMBLENGAN ILMU SPIRITUAL



KHUSUS UNTUK ANDA YANG INGIN MEMPELAJARI KEILMUAN BERBEDA dan UNIK yang belum pernah anda pelajari sebelumnya, Program ini Layak Anda Ikuti.

Di Dalam Pelatihan ini akan dikupas tuntas dalam waktu singkat berbagai Teknologi dari Rahasia Mistik yang selama ini “Ditutupi”.

Inginkah anda menguasai Ilmu Supranatural atau Ilmu kebatinan dengan cepat ?
Mau mempertajam INDERA ke-6 ? atau Mau jadi PAKAR METAFISIK yang menguasai berbagai ilmu metafisika ?
Inginkah anda memahami kecerdasan spiritual atau bahkan menjadi ahli spiritual ?
Anda Mampu menguasai Teknik dan Pola Keilmuan PARANORMAL Secara CEPAT. Materi yang disajikan sangat mendasar dan mudah untuk anda pahami, sehingga tanpa bertele – tele dan dengan gamblang teknik PARANORMAL dikupas tuntas.
Silahkan hubungi no yg tertera

Rabu, 14 November 2018

KEBERSAMAAN TIM DI JEMBATAN CINTA














TETAP BERSAMA MESKIPUN TIDAK LENGKAP
KARNA KEBERSAMAAN ITU ADALAH INTI PERSAUDARAAN
SALAM RAHAYU
SALAM DZIKIR HATI QALAM LANGIT

Sabtu, 10 November 2018

PENGISIAN ILMU ANTI SAJAM DAN PELURU

Pengisian kekebalan anti sajam dan anti peluru,,
Semata hanya memberikan pengetahuan bahwa ilmu Allah itu sangat luas,  semoga tidak menjadikannya takabbur

Kamis, 08 November 2018

KISAH ASAL USUL JOKOTOLE



Pada sekitar abad ke-13, di Madura tepatnya di Sumenep ada seorang raja yang bernama Raja Mandaraga (karena tinggal di Mandaraga) yang mempunyai putra bernama Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung (tinggal di Bukabu dan Baragung). Pangeran Baragung mempunyai putri yang bernama Endhang Kelingan yang bersuamikan Bramakanda yang dikaruniai seorang putra yang bernama Wagungrukyat. Wagungrukyat setelah dewasa menjadi raja di Sumeneb dengan julukan Pangeran Saccadiningrat yang keratonnya terletak di desa Banasare (sekarang masuk Kecamatan Rubaru).
Pangeran Saccadiningrat kawin dengan Dewi Sarini dan dikaruniai seorang putri bernama Saini dengan julukan Raden Ayu Potre Koneng (kulitnya mengkilap serta wajahnya sangat cantik). Setelah dewasa ibunya menghimbau agar segera kawin tapi ia menolak, karena ia ingin berbakti pada Allah, karena itu suatu hari Raden Ayu Potre Koneng berpamitan untuk bertapa di goa Payudan dengan 3 pengawalnya. Raden Ayu Potre Koneng bertapa hingga pada hari ke tujuh tepatnya tanggal 14 ia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya ia tidur dengan seorang lelaki yang mengaku bernama Adipoday ( dikisahkan ada seorang pertapa yang bernama Panembangan Balinge mempunya putra yang bernama Adipoday dan Adirasa. Adippoday bertapa di gunung Geger dan Adiyasa di ujung gelagah).
Raden Ayu Potre Koneng kemudian pulang tapi perutnya makin hari makin besar dan diketahui bahwa dirinya hamil. Bapak dan ibunya marah dan bahkan pada suatu hari ia hendak dihukum mati oleh Bapaknya, karena Raja malu jikalau hal ini diketahui oleh orang dan raja-raja lain. Permaisuri, patih dan para mentri merasa kasihan pada Raden Ayu Potre Koneng sehingga mengadakan perundingan dan akhirnya baginda raja berkenan merubah keputusannya, dengan syarat supaya putrinya itu tidak terlihat oleh beliau. Dengan demikian Raden Ayu Potre Koneng disembunyikan agar tidak terlihat oleh baginda raja.
Tiba saatnya Raden Ayu Potre Koneng melahirkan, tepat pada tanggal 14 ia melahirkan bayi laki-laki yang elok, besih dan berseri-seri seperti wajah orang yang menghamilinya dalam mimpinya. Anehnya Raden Ayu Potre Konengmelahirkan tanpa mencucurkan darah setetespun dan tanpa ari-ari. Kelahiran bayinya justru membuat Raden Ayu Potre Koneng takut disangka berbuat tidak baik oleh kedua orang tua, maka dengan deraian air mata ia menyuruh dayang untuk membuang bayinya tadi.
Keesokan harinya simbok pergi ke alas gunung selatan untuk membuang bayi Raden Ayu Potre Koneng. Bayinya ia taruh di bawah pohon untuk menjamin kamanan bayi itu dan ditutup dedaunan.
Disisi lain yaitu di desa Pakandangan (sekarang bagian kecamatan Bluto) hidup lelaki bernama Empo Kelleng yang hidup berumah tangga tapi belum dikaruniai keturunan. Ia bekerja sebagai pandai besi dan juga ia memelihara kerbau. Setiap hari kerbaunya diumbar ke hutan dan pada sore hari akan pulang sendiri. Salah satu kerbaunya ada kerbau yang paling bagus berwarna putih mulus yang sedang menyusui anaknya. Dengan kekuasaan Allah kerbau tadipun juga ikut menyusui bayi Raden Ayu Potre Koneng serta menjaganya setiap hari, bahkan kalau pulang pasti terlambat. Empo Kelleng mulai curiga dengan kerbau putihnya yang selalu pulang terlambat dan badannya bertambah kurus, ia pun menyelidiki hal itu.
Keesokan harinnya Empo Kelleng mengikuti kerbau putihnya, ia terkejut karena didapati kerbaunya menyusui seorang bayi laki-laki yang tampan. Ello kelleng pun membawa bayi itu pulang, sesampainya dirumah Nyai Empo sangat senang karena mereka tidak punya anak dan bayi itu diberi nama “Jokotole”. Sejak saat Empo kelleng mempunyai anak, banyak tamu yang berdatangan dan member mereka oleh-oleh sehingga membuat mereka makin kaya.
Lain halnya Raden Ayu Potre Koneng, ia bermimpi lagi tidur dengan Adipoday di keratin Sumeneb. Iapun bangun dan terkejut serta gelisah, ia menangis takut peristiwa yang dulu terjadi lagi. Mendengar tangisan Raden Ayu Potre Koneng simbok terbangun dan menangkan Raden Ayu Potre Koneng. Benar saja ternyata didapati bahwa Raden Ayu Potre Koneng hamil, akan tetapi bapak dan ibunya tidak marah karena disangka penyakit Raden Ayu Potre Koneng yang dulu kambuh lagi.
Kelahiran bayinyapun tiba pada waktu tengah malam, bayi laki-laki yang mirip rautnya dengan Jokotole yang tampan dan berseri-seri. Bayinya itupun juga dibuang seperti dulu, hingga pada suatu saat ada seseorang yang bernama Kyai Pademmabu menemukan bayi itu. Kemudian bayi itu dibawa pulang dan diberikan kepada anak perempuannya. Anaknya sangat senang dengan kehadiran bayi itu dan bayi itupun diberi nama “Agus Wedi” (banyak wedi).
Agus Wedi genap berusia 5 tahun, sedangkan Jokotole 6 tahun. Suatu hari Jokotole ikut kerja Empo Kelling, awalnya tidak diizinkan karena Jokotole ini terkenal nakal tetapi akhirnya diizinkan ikut. Ketika Empo Kelling dan para pekerja yang lain sembahyang zuhur di masjid, Jokotole menyulut api dan membuat perkakas seperti arit, linggis, dll. Jokotole menggunakan lututnya sebagai alas, dan tangannya sebagi palu,jari-jari sebagai jepit dan kikir hasilnyapun lebih bagus dari buatan Empo Kelling. Para pekerja dan Empo Kelling terkejut melihat banyak perkakas yang telah selesai tetapi tidak tahu kalau yang membuat adalah Jokotole.
B.   Perjalanan ke Majapahit
Sultan Majapahit, Brawijaya hendak membuat pintu gerbang raksasa yang terbuat dari besi dan memanggil seluruh pandai besi di Jawa dan Madura untuk membuat pintu itu. Empo Keling sangat susah atas panggilan itu karena ia harus berpisah dengan keluarganya selama satu tahun bahkan lebih untuk mengerjakan panggilan itu.
Awalnya Jokotole ingin ikut tapi dilarang, Jokotole pun tetap dirumah dan ia banyak disururh oleh para tetangganya untuk membuat perkakas yang konon perkakasnya mempunyai kelebihan. Misalnya perkakas pertanian yang membuat tanaman subur dan keris yang sakti yang dibuat dengan tangan, lutut dan jarinya sendiri.
Setelah hsatu tahun lebih, pembangunan pintu gerbang raksasa di Majapahit mengalami kendala, yaitu saat pengelasan tidak mau menyatu. Disana banyak pandai besi sakit dan bahkan meninggal. Empo Kelling pun juga sakit.
Nyai Empo mendengar kabar bahwa suaminya sakit, maka ia menyuruh Jokotole untuk membantu pekerjaan ayahnya itu agar cepat selesai. Jokotole berangkat, akan tetapi ia tidak tahu jalan ke Majapahit. Di tengah perjalan tepatnya di tengah hutan Jokotole bertemu dengan seorang pertapa yaitu Adirasa, yang ternyata adalah pamannya sendiri. Setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya, Jokotole berniat untuk ikut Adirasa dan bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Adipoday, akan tetapi dilarang, karena ia seharusnya menolong Empo Kelling yang telah merawat Jokotole sampai sekarang.
Jokotole diberi ilmu batiniyah dan lahiriyah, jokotole diberi kembang sakti, yang mana kembang tadi dapat berguna untuk membantu dalam mengelas pintu gerbang raksasa di majapahit.
“makanlah kembang ini sekarang, nanti akan berguna di majapahit. Caranya adalah kamu harus dibakar dulu, maka akan keluar bahan las dari pusarmu. Segeralah kamu ambil abunya dan siram dengan air. Pintu besi supaya dibakar dan jika sudah menyala kamu masuk dalam api dan mengelas pintu itu” kata Adirasa.
Selain itu Adirasa juga memberitahukan tentang adik Jokotole yaitu Agus Wedhi. Adirasa mengatakan bahwa adiknya ada di sebelah barat di bawah pohon beringin, serta menyuruh untuk memanggil nama adiknya itu. Jokotole melakukan apa yang diperintah Adirasa, ia pun pergi dan memanggil nama adiknya itu, akhirnya Jokotole pun bertemu dengan Agus Wedi yang keluar dari pohon beringin. Wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua, dan sama-sama tampannya.
Jokotole mengajak adiknya untuk ke majapahit. Setelah berpamitan dengan Kyai Padhemmabu mereka berangkat ke Majapahit. Siang malam mereka berjalan ke barat hingga sampailah di sebuah pantai berpasir putih . mereka beristirahat di pasar, banyak orang yang terkesima melihat keduanya. Banyak orang member bunga, sarung, nasi dan makanan lainnya kepada mereka berdua, karena mereka ingin melihat ketampanan Jokotole dan Agus Wedi. Banyak yang ingin menjadikan mereka berdua suami dan menantu.
Mereka melanjutkan perjalanan, bertemulah mereka dengan juragan perahu. Mereka ingin menumpang menyeberangi lautan untuk ke Gresik. Awalnya juragan perahu dan awak kapalnya menolak karena mereka takut jika membawa Jokotole dan Agus dikira sebagai penculik anak raja (terlihat dari raut wajah dan logat Jokotole dan Agus Wedi ).
Akhirnya juragan pergi berlayar, tapi anehnya perahu itu tidak mau berlayar tapi hanya terombang ambing dan bahkan kembali lagi ke pinggir, segala cara dilakukan tapi tidak berhasil. Si juragan bertanya-tanya mungkin kedua pemuda yang ditolaknya tadi keramat. Akhirnya juraganpun mau memberikan tumpangan kepada Jokotole dan Agus Wedi. Setelah kedua pemuda itu naik ke perahu, perahu juragan mau berjalan bahkan kecepatannya melebihi kecepatan biasanya, hingga sampailah mereka ke Gresik. Merekapun melanjutkan perjalanan menuju Majapahit.
C. Agus Wedi Menetap di Gresik
Suatu malam Raja Gresik mendengar suara “hai Raja Gresik ketahuilah bahwa ada dua orang pemuda yang masih jejaka, wajahnya sangat tampan. Ambil anak mereka dan rawatlah dengan baik”. Keesokan harinya baginda raja menyuruh para patih dan menteri nya untuk mencari kedua anak tersebut.
Lora Kaarjan berhasil menemukan Jokotole dan Agus Wedi, akan tetapi ketika hendak ditangkap dan dibawa ke istana mereka berdua menolak. Patih Lora Kaarjan menyuruh para pengawalnya yaitu Macanrangas, Macankembang, Macankoneng, Jayakaletteng, Kebulaplap, dan Kalamentas untuk mengkap Jokotole dan Agus Wedi, akan tetapi mereka berenam dikalahkan Jokotole dan Agus Wedi. Ki Patih Lora Kaarjan yang cerdik akhirnya mendekati mereka berdua dengan cara halus, yaitu dengan pujian-pujian dan bujukan-bujukan sehingga mereka berdua mau diajak ke istana menghadap raja.
Baginda raja memperhatikan kedua pemuda itu dan ternyata sesuai dengan apa yang didengarnya beberapa hari sebelumnya. Mereka berdua disambut baik, dan hendak diangkat sebagai anak oleh baginda raja. Jokotole menolak karena ingin melanjutkan ke Majapahit, akan tetapi adiknya Agus Wedi tetap ingin tinggal dan akhirnya Agus Wedi diangkat sebagai punakawam kerajaan Gresik, bahkan ketika Agus Wedi menginjak dewasa ia diangkat sebagai sesepuh gambu. Dalam kegiatan sehari-hari Agus Wedi dikenal baik, pandai mengaji, membaca dan menulis. Oleh sang Raja, Agus Wedi dinikahkan dengan putrinya satu-satunya.
Sementara Jokotole yang dalam perjalanan, kini sudah sampai di Majapahit. Banyak gadis-gadis dan janda yang terpesona melihat Jokotole, sehingga banyak yang memberinya bunga, makanan dan lainnya agar mereka diperhatikan Jokotole. Bahkan ada seorang janda kaya yang mengikutinya dari belakang kemudian memegang tangan Jokotole dan mengajaknya pulang akantetapi Jokotole hanya tersenyum kemudian melanjutkan perjalanannya.
D. Jokotole Tiba di Majapahit
Dalam perjalanan akhirnya Jokotole sampai di alunalun Majapahit, yaitu tempat para pandai besi bekerja. Akhirnya Jokotole bertemu dengan Empo Kelling. Jokotole sangat prihatin melihat keadaan bapaknya itu.
Baginda raja sangat marah kepada patihna kaena pekerjaan membuet pintu itu belum jua selesasi. Para pekerja dan patih menundukkan kepala takut pada kemarahan raja. Akantetapi Jokotole berani berkata kepada raja hingga akhirnya ia sangup untuk menyelesaikan pembuatan pintu itu. Sang raja sangat senang karena ada yang berani menyangupi untuk menyelesaikan pembangunan pintu, tapi ayahnya sangat susah karena jika Jokoole gagal pasti diriya danJokotole akan dihikum mati.
Sebenarnya pekejan pembuatan pintu sudah selesai tapi kurang mengelasnya yang sangat susah. Keesokan harinya Jokotole memerintah para pekerja yang lain untuk membakarnya. Para pekerjapun setuju dan mulai mengumpulkan kayu bakar. Setelah kayu dibakar Jokotole masuk kedalamnya. Empo kelling tidak tega melihat anaknya dibakar, akan tetapi setelah setengah jam api mengecil dan terlihat Jokotole masih hidup dan berubah menjadi hangus seperti arang. Keluarlah cairan putih dari pusarnya, lalu cairan itu dicampur dengan air jambangan dan digunakan untuk mengelas pintu. Setelah pintu dibakar dan dirapatkan oleh para pekerja, Jokotole menempelkan cairan putih ke pintu. Setela bitu disiram dengan air, dan terlihat pintu gerbang telah jadi dan bahkan terlihat sangat indah. Patih Gajahmadha dan para pekerja heran melihat kejadian itu.
Setelah cairan putih keluar dari pusar Jokotole, wajahnya berubah seperti semula dan bahkan lebih tampan dari sebelumnya.
Patih Gajahmadha segera melapor pada Raja. Raja memanggil Jokotole dan menanyakan apakah pekerjaannya sudah selesai, Jokotole meminta tambahan orang untuk mendirikan pintu itu, akhirnya Raja menyuruh patih untuk mencari sebanyak lima ribu orang untuk mendirikan pintu gerbang yang megah itu, akan tetapi lima ribu orang itu tidak bisa mengangkat pintu itu. Akhirnya Jokotole teingat pesan dari pamannya yaitu Adirasa. Jokotolepun berdoa kepada Allah dan akhirnya Adirasa datang kesana dengan membawa ribuan bala tentara jin untuk mengangkat pintu gerbang itu. Orang-orang yang melihat heran karena yang terlihat hanyalah Jokotole yang mengangkat pintu gerbang sendirian.
Sang Raja menepati janjinya dan memberikan hadiah berupa emas seberat badan Jokotole, akantetapi setelah mencapi lima karung belum mencukupi berat badan Jokotole akhirnya sampai ke karung sepuluh dan raja menyuruh untuk menghentikan timbangannya itu. Akhirnya Jokotole diberikansepuluh karung emas.
Sepuluh karung emas itu diberikan pada Empo kelling dan dipersembahkan pada ibunya dirumah. Jokotole menyuruh bapaknya untuk pulang, akan tetapi Empo kelling menolak kalau Jokotole juga tidak pulang, akhirnya setelah dirayu bapaknya mau pulang.
E. Agus Wedi Menjadi Raja Gresik
Dikisahkan bahwa Agus Wedi setelah menginjak dewasa wajahnya bertambah tampan, dan banyak wanita yang cinta padanya, namun ia telah dijidohkan dengan putri tunggal baginda raja yaitu Raden Ajeng Sekar Kadatum yang parasnya sangat cantik. Setelah cukup lama mereka bertunangan akhirnya tiba saatnya pernikahan mereka. Pesta penikahannya diadaka selama empat puluh hari empat pluh malam. Para undangan sangat kagum melihat kedua pasangan yang sangat cantik dan tampan itu. Kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun.
Baginda raja sudah sangat tua sehingga memutuskan untuk menjalani hari tuanya daengan bersemedi dan menyerahkan pemerintahan kepada Agus Wedi untuk menjadi raja disana. Masa pemerintahan nya bertambah aman dan tentram. Selain itu beliau terkenal dengan raja yangs angat dermawan dan bijaksana. Meskipun menjadi raja ia tidak melupakan orang yang telah merawatnya, ia selalu mengirimkan barang dan uang kepada Kyai Padhemmamu dan anaknya yang telah merawat Agus Wedi dari kecil.
F. Pulang dari Majapahit
Setelah pintu gerbang selesai dibangun, raja mempuyai hajat untuk mengadakan perlombaan gulat. Sang raja mengajukan Jokotole tetapi dengan menyamar, melawan asuhan sang patih yang lebih besar, awalnya semua orang menganggap bahwa yang menang adalah dari pihat Patih Gajah Mada akantetapi hal itu di menangkan ileh asuhan baginda rajayang tidak lain adalah Jokotole. Melihat bahwa itu adalah Jokotole Patih kecewa karena Jokotole itu orangnya sangat kuat, pitu gerbang saja bisa diangkatnya sendiri
Akhirnya Jokotole mendapat penghargaan dari sang baginda raja yang kemudian dipersembahkan kepadaEmpo Kelling. Setelah pertandingan Empo Keling dibantu dengan 3 orang kawannya pulang membwa karung-karung emas yang telah diberikan kepada nya. Mereka sama-sama pulang ke Madura.
Setibanya di pinggir pantai mereka menumpang perahu menuju pantai Cangkrama’an (sebelah timur desa pakandangn Kabupaten Sumeneb). Akhirnya ia samppai di rumah dengan keadaan selamat. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan istrinya dan menceritakan semua yang dialamunya di Majapahit. Banyak tamu-tamu yangberdatangan untuk mendengar cerita entang keadaan Jokotole dan Empo Kellingpu tidak henti-hentinya menceitakan semua hal yang berkaitan dengan anaknya itu.
Sepulangnya Empo Kelling ke Madura, Jokotole tetap tinggal di Majapahit dan ia membuat perkakas tani, keris dan tombak yang diberi nama “Jennengan Majapahit” yang mana karyanya ini sanga disukai oleh banyak orang.
G. Menangkap kuda liar
Baginda raja mempunyai 7 orang putra dan 3 orang putri, akan tetapi ada salah seorang putrinya yang bernama Dewi Ratnadi mempunyai penyakit cacar yang sangat parah sampai kedua matanya buta. Sudah berbagai cara untuk menyembuhkan Dewi Ratnadi akantetapi tidak berhasil. Suatu hari ada seorang kakek yang memberikan sebuah tongkat pada Dewi Ratnadi yang mungkin akan bermanfaat dikemudian hari.
Disisi lain sang raja juga mempunyai kuda yang sering digunakan untuk berkendara yang bernama “Sambrane”. Suatu hari kuda tersebut mengamuk dan lepas sampai ke alun-alun kota. Jika kuda itu sedah ngamuk semuanya pasti diserang, sehingga banyak penduduk yang ketakutan.
Baginda raja teringat akan keampuhan Jokotole, untuk itu beliau meminta Jokotole untuk menagkap kuda kesangan sang Raja itu. Jokotole bersedia asalkan diberikan kaos dan pakaian kuda.
Ketika kuda itu melihat Jokotole dari kejauhan, kuda itu langsing jinak dan membungkukkan badannya tatkala Jokotole mendekat. Akhirny kuda itu berhasil dijinakkan oleh Jokotole. Baginda raja sangat berterimakasih pada Jokotole serta diberikan hadiah berupa pakaian dan Jokotole diangkat sebagai Patih dengan julukan “Kodapole” yang mempunyai wewenang di dalam keratin, sedangkan Patih Gajahmada berada diluar keratin.
H. Perang Blambangan
Pada suatu hari raja berkeinginan untuk membangun pagar di dalam kota yang dikerjakan oleh para tumenggung, Patih Gajahmada dan Jokotole. Setelah selesai pembangunan pagar itu, ada seorang raja yang tidak mau berkunjung dan tidak mau membayar upeti pada baginda raja Majapahit yaitu Raja Minakjayengpati yang merupakan Raja di Blambangan. Akhirnya baginda raja Majapahit mengutus orang untuk mengirimkan surat ke Blambangan akantetapi sesampainya diBlambangan surat tadi disobek-sobek dan tidak mau tunduk pada Majapahit.
Baginda sangat marah, oleh karenanya beliau mengirimkan Patih Gajahmada Dan Jokotole untuk menyerang Blambangan. Jika ada yang berhasil membawa putri Raja Blambangan maka akan dinikahkan dengan putrinya.
Pada waktu tengah malam yang gelap gulita Jokotole dan pasukannya melakukan serangan ke Blambangan, berbeda dengan Gajahmada yang hanya bersembunyi. Sesampainya di kraton Jokotole bertemu dengan seorang putri yang tertinggal yaitu Puteri Asmarawati, sedangkan sang Raja dan yang lainnya telah melarikan diri ke gunung.
Patih Gajahmada datang dan member alasan tidak berperang, kemudian mengusulkan agar Jokotole mengejar rombongan raja ke gunung sedang sang patih sendi akan menjaga keratin dan membawa puteri Asmarawati pada baginda raja. Jokotolepun menyetujuinya.
Patih Gajahmada membawa puteri itu menghadap baginda raja dan menceritakan bahwa dirinya telah berjuang keras untuk melawan pasukan Blambangan dan dikatakan bahwa yang menemukan puteri Asmarawati adalah dirinya. Ia juga menceritakan bahwa Jokotole mungkin sekarang kabur karena malu tidak bisa menjalankan tugasnya. Baginda raja pun heran mendengar perkataan sang patih. Sang rajapun menepati janjinya untuk memberikan putrinya, akhirnya Pati Gajahmada memilih Dewi Lintang Asmara.
Sedangkan Jokotole didalam mengejar pasukan Raja Blambangan akhirnya berhasil menemukan pasukan Blambangan dan terjadilah pertempuran sengit antara Jokotole dan Raja Blambangan yang terkenal sangat sakti itu, tapi akhirnya peperangan bisa dimenangkan Jokotole dan Raja Blambangan menyerah serta menyerahkan kedua putrinya untuk diberikan pada raja Majapahit.
Jokotole sampai di Majapahit dengan membawa dua putrid Blambangan, hal ini membuat takut Patih Gajahmada atas kebohongannya. Jokotole menceritakan seperti apa kejadian yang sebenarnya kepada raja. Untuk menunjukkan siapa yang benar sang raja menyuruh pasukan Patih Gajahmada dan pasukan Patih Kodapole untuk berkumpul di alun-alun. Tujuannya baginda raja ingin melihat pada peralatan perang Gajahmada yang ternyata masih bagus dan tajam, berbeda dengan senjata milik pasukan Jokotole yang rusak, patah, dan tumpul yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar berperang. Bagindapun menyuruh untuk jujur, dan akhirnya ada pasukan Patih Gajahmada yang berkata bahwa mereka semua disuruh untuk bersembunyi saja begitu perang usai disuruh untuk keratin dan menceritakan berita bohong. Patih Gajah mada dipanggil oleh naginda raja serta dimarai, ia sangat malu dan kesal kepada Jokotole.
Keesokan harinya baginda raja menyuruh Patih Gajahmada untuk mengundang para Tumenggung untuk menghadiri pernikahan Jokotole dan Ratna Dewi Maskumambang putri sang Raja yang mana ini sebagai hadiah Jokotole. Mendengar hal itu Patih Gajahmada membujuk kepada baginda raja, karena Jokotole tidak jelas asal-usulnya dan jika nanti menikah pasti pamor baginda raja bisa turun. Sang rajapun terbujuk, akan tetapi raja tidak bisa mengingkari janjinya untuk menikahkan Jokotole dengan putrinya, dan akhirnya Jokotole dinikahkan dengan Dewi Ratnadi yang buruk, buta dan penyakitan atas bujukan Patih Gajahmada.
Jokotole dan Dewi Ratnadi sudah resmi menikah, Jokotole sangat bahagia dikaruniai seoarng istri dari keturunan raja. Akan tetapi hal itu membuat hancur hati Ratna Dewi Maskumambang.

I. Pulang ke Kampung Halaman
Setelah menikah dengan Dewi Ratnadi, Jokotole mengajak untuk pulang ke Sumeneb. Karena Jokotole takut jika dirinya tetap disana akan mengakibatkan konflik dengan Patih Gajahmada yang sangat menbencinya. Setelah meminta restu pada raja Jokotole pergi dengan menggendong istrinya.
Disini Patih Gajahmada menjelek-jelekan Jokotole yang dianggap jelek akhlaknya karena telah membawa anak raja dengan terburu-buru tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sang patihpun meminta izin untuk menghabisi Jokotole. Baginda raja menjawab “terserah kamu, aku tidak akan menghalang-halangimu” karena baginda tahu bagaimana sikap dan kemampuan Jokotole yang hebat.
Patih Gajahmada dan bala tentaranya melakukan penyerangan pada Jokotole ketika dalam perjalan. Patih Gajahmada menyuruh pasukannya untuk menyerang Jokotole sedangkan ia sendiri sembunyi.
Kabar peperangan ini sampai ke telinga raja Gresik yaitu Ario Banyak Wedi, saudara Jokotole. Sang Raja tidak terima jika saudaranya diserang. Setelah sampai di batas Majapahit, Ario Banyak Wedi melihat Jokotole berperang sambil menggendong istrinya. Oleh sebab itu akhirnya Ario Banyak Wedi membantu Jokotole sehingga bisa mengalahkan pasukan Patih Gajahmada, dan Patih Gajahmada pun melarikan diri.
Jokotole dan istrinya diajak menginap ke keratin Gresik. Disana Jokotole ditawari untuk tinggal bersama dengan Ario Banyak Wedi, adiknya. Dan nanti jika Jokotole berkenan akan dijadikan raja pula yaitu dengan membagi Gresik menjadi dua wilayah, akan tetapi Jokotole menolak tawaran adiknya itu, karena Jokotole belum berkeinginan untuk menjadi raja dan berkeinginan untuk pulang ke Sumeneb. Jokotole sangat berterimakasih kepada adiknya , dan Jokotole mendoakan kebaikan pada adiknya serta supaya semua cita-cita adiknya dapat tercapai.
Setelah satu minggu, Jokotole pun berpamitan pada adiknya untuk melanjutkan perjalan ke Sumenep. Perjalanan sampai ke pesisir diantar oleh adiknya dengan iring-iringan gamelan, kemudian sambil menggendong istrinya Jokotole melanjutkan perjalanan dengan menumpang pada sebuah perahu. Keesokan harinya sampailah mereka di pelabuhan Soca.
Sesampainya di daratan Dewi Ratnadi ingin mandi karena semalaman berada di perahu. Tidak ditemui air untuk mandi, kemudian Jokotole menancapkan tongkat “Bulu Gaddhing” milik istrinya yang merupakan pemberian seorang kakek. Ketika tongkat itu dicabut keluar air yang muncrat mengenai mata Dewi Ratnadi. Akantetapi muncratan air itu membuat kebutaannya sembuh, sehingga Dewi Ratnadi bisa melihat. Tanah yang ditancapi tongkat tadi berubah menjadi taman. Dewi Ratnadi dan Jokotole mandi bersama, keajaiban muncul yaitu penyakit cacar Dewi Ratnadi sembuh sehingga menjadikan ia sangat cantik dan berseri-seri. (pemamdian itu masih ada sampai sekarang dan bernama Desa Soca). Jokotole dan Dewi Ratnadi sangat bahagia, ia bersyukur kepada Allah atas segala yang telah diberikan.
Mereka melanjutkan perjalanan, ditengah perjalan istrinya kehausan dan Jokotole berusaha meminta air didaerah itu, tapi didapi airnya sangat dingin sehingga tempat itu dinamai “Desa Banyocellep” yang berada di timur Desa Soca.
Mereka melanjutkan perjalanan ke timur dan terlihat ada sebuah jambu yang menguning lalu jambu itu diambil oleh Jokotole dan rasanya manis, sehingga tempat itu disebut “Desa Jambu”. Siang malam mereka tetap berjalan hingga sampailah pada suatu desa, istrinya kehausan dan Jokotole meminta air pada perempuan yang member makan pada anaknya. Perempuan itu bilang tidak punya air dan Jokotole diberi air sisa minum anaknya. Kemudian air itu diberikan pada istrinya untuk cuci muka bukan untuk minum, kemudian isrinya berkencing dan disitu ditancapkan tongkatnya kemudian dicabut dan keluarlah air yang baunya tidak enak sehingga tempat itu dinamakan “Banyobanger”.
Jokotole dan istrinya melanjutkan perjalanan hingga sampailah dihutan. Disana istrinya ingin mandi dan membersihkan diri karena saat itu sedang haid, maka ditancapkanlah tongkanya ke tanah dan memancarkan air hingga terciptalah taman dengan mata air. Disana Dewi Ratnadi mandi, akan tetapi didapati istrinya itu menangis, setelah ditanya oleh Jokotole ternyata ikat pinggang istrinya hanyut. Jokotole berdoa agar sumber mata air itu tidak mengalir terlalu jauh dan doanya pun dikabulkan, meskipun sumber mata air itu besar tapi tidak mengalir jauh sehingga tempat itu dinamakan “Omben” (timur kota Sampang). Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi dan ditengah perjalanan istrinya haus serta ingin mandi, ditancapkanlah tongkatnya dan keluarlah air membentuk sendang, sehingga tempat itu disebut “Desa Sendang”.
Adaun keadaan keratin Sumeneb saat itu sedang ditinggal pergi oleh Raja Saccadiningrat yang berkunjung ke Majapahit. Pada suatu malam Raden Ayu Potre Koneng bermimpi kejatuhan dua buah kembang yang harum baunya, kemudian ia terbangun dan menceritakan mimpinya pada si Mbok.
Jokotole dan istrinya sudah sampai di Sumenep, mereka berhenti di pasar. Orang-orang banyak yang kagum melihat ketampanan dan kecantikan Jokotole dan istrinya, sehingga banyak yang memberikan bedak, makanan dan sebagainya kepada mereka.
Jokotole bertanya kepada oaring di pasar yang kebetulan adalah pegawai kraton. Jokotole menanyakan bagaimana caranya bisa bertemu dengan raja, akan tetapi saat itu raja sedang tidak ada yang ada hanyalah seorang putri raja yang dijaga sangat ketat, yang bernama Raden Ayu Potre Koneng.
Mereka sampai di depan pintu keratin dan dilarang masuk, akantetapi mereka mendapat izin dari Putri Koneng dan mereka ditanyai identitas serta keperluan mereka. Ketiak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi Raden Ayu Potre Koneng langsung pinsan, kemudian setelah siuman Potre Koneng langsung mencium Jokotole dan mengatakan bahwa Jokotole adalah putranya dulu. Bersamaan dengan hal itu pula Adipoday tiba-tiba muncul dan menegaskan bahwa Jokotole adalah putranya serta mengatakan bahwa Adipoday ada di gunung Geger.
Raden Ayu Potre Koneng juga menanyakan tentang adik Jokotole, Jokotole mengatakan bahwa Banyan Wedi telah menjadi Raja Gresik. Betapa bahagianya hati Raden Ayu Potre Koneng akan tetapi ia juga masih was-was bagaimana bila nanti baginda raja tahu. Apakah akan bahagia dengan adanya cucu yang tampan dan cantik ataukah malah akan membunuh Jokotole.
J. Penobatan Ratu Japan
Diceritakan bahwa putrid baginda Raja Majapahit yaitu Ratna Dewi Maskumambang yang patah hati karena tidak jadi dijodohkan dengan Jokotole selalu menangis dan mengurung diri di kamar. Badannya bertambah kurus. Hingga pada suatu hari baginda Raja menengok keadaan putrinya itu dan berjanji member apa saja asalkan putrinya bisa senang kembali.
Putri Ratna Dewi Maskumambang, meminta agar dirinya dijadikan pemimpin di Japan. Baginda Raja menyanggupi dan mengangkat putrinya sebagai ratu didaerah Japan. Dalam pemerintahannya Japan bertambah aman.
K. Jokotole, Raja Sumeneb
Setelah tiga hari di keratin Sumenep, Jokotole memutuskan untuk mencari ayahnya di gunung Gegger sendirian meninggalkan ibu dan istrinya. Sesampainya di gunung gegger ia melihat cahaya kemilauan yang sangat terang. Ternyata disana ada seorang lelaki yang sedang bersemedi dan dililit oleh akar beringin dan ternyata itu adalah Adipoday ayahnya, awalnya Adipoday tidak mengaku tapi karena Jokotole benar-benar berniat untuk bertemu ayahnya maka ia kasihan dan akhirnya mengaku.
Dalam pertemuannya itu Jokotole diberikan kuda milik ayahnya yang mana kuda itu bisa menghilang dan akan datang bila dibutuhkan, serta JOkotole juga diberikancemeti sakti yang mana cemeti ini bila dipukulkan pada gunung, maka gunung itu akan hancur, bila dipukulkan pada air laut maka akan habis, bila dipukulkan pada angin, maka angin akan berhenti dan bila dipukulkan pada musuh maka musuh akan mati semua. Jokotole sangat berterimakasih atas pemberian ayahnya ini, kemudian Adpoday menghilang dan Jokotolepun pulang. Sesampainya di keratin ia menceritakan kejadian yang dialaminya itu pada ibu dan istrinya. Mendengar hal itu Raden Ayu Potre Koneng sangat bangga pada suami dan putranya itu.
Raden Ayu Potre Koneng mengutus Patih Jayasenga untuk menyusul baginda Raja Saccadiningrat ke Majapahit. Sesampainya di Majapahit Raja Saccadiningrat sedang duduk bersama baginda Raja Majapahit, pangeran dan patih. Disana patih masih saja boercerita bohong mengenahi pertempurannya melawan Jokotole yang akhirnya dibantu oleh Raja Gresik.
Ketika baginda raja memarahi Patih Gajahmada, datanglah utusan dari Sumenep yang membawakan surat yang berisi perkataan Jokotole, bahwa ia adalah cucu dari Raja Saccadiningrat yang menikahi Dewi Ratnadi, serta memberitahu bahwa Dewi Ratnadi telah sembuh dan wajahnya sangat cantik, mendengar hal itu Baginda raja Mataram sangat senang karena putrinya telah sembuh dan ternyata menikah dengan cucu Raja Saccadingrat. Tapi Raja Saccadiningrat tidak tahu kalau Jokotole itu cucunya. Patih Jayasenga membisikkan pada Raja Saccadiningrat bahwa Jokotole adalah putra dari Raden Ayu Potre Koneng dari mimpi, Raja Saccadiningrat bisa paham dan mengerti serta akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi secara penjang lebar. Raja Saccadiningrat ingin segera pulang karena tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya itu.
Baginda raja titip baju untuk Dewi Ratnadi kepada Raja Saccadiningrat, karena sewaktu pergi mereka tidak membawa baju kecuali hanya yang ia kenakan. Mendengar hal itu Patih Gajahmada iri, sebab ia sudah lama bekerja pada baginda raja tetapi tidak pernah diberi baju.
Sesampainya di keratin Sumeneb baginda raja saccadiningrat sangat senang, tidak henti-hentinya ia bercakap-cakap pada Jokotole.
Jojotole dikaruniai dua orang anak yang pertama adalah Ario Wigananda dan yang kedua perempuan. Raja Saccadiningrat sudah semakin tua dan memutuskan untuk bersemedi, sehingga kekuasaan diserahkan pada Jokotole. Jokotole dinobatkan sebagai Pangeran Saccadiningrat II, akantetapi orang –orang lebih banyak memanggil Ario Kodapole atau Jokotole.
Pada suatu hari Jokotole megirim surat kepada adiknya untuk datang Ke Sumeneb bertemu dengan ibu mereka yaitu Raden Ayu Potre Koneng. Sesampainya di sana Banyak Wedi langsung dirangkul oleh Raden Ayu Potre Koneng yang sangat rindu dan bangga pada anaknya itu. Disana Banyak Wedi membawa istri dan dua anaknya yaitu yang laki-laki bernama Ario Banyak Modang dan yang satunya perempuan, sebenarnya masih ada putra satu lagi yaitu Aio Susuli tetapi tidak diajak. Suasana keratin menjadi sangat ramai, karena diadakannya banyak hiburan disana.
Usai hiburan, baginda Raja Gresik berpamitan pada ibu, embah dan saudaranya. Akan tetapi ibu dan embahnya meminta agar anaknya ditinggal di Sumeneb. Banyak Wedi dan istrinya setuju untuk meninggalkan kedua anaknya di Sumeneb yang mana nantinya setelah dewasa putranya yang bernama Ario Banyak modang ditunangkan dengan Putri Patih Jayasenga, sedangkan yang perempuan ditunangkan dengan Ario Wigananda.
L. Perang Melawan Dempo Awang
Di negeri Kelleng ada seorang raja bernama Bermana yang mana sangat diberani sampai-sampai tidak mempunyai musuh karena keberaniannya itu, ia mempunyai putra bernama Dempo Awang. Baginda Raja menyuruh putranya itu untuk segera mencari istri tapi Dempo Awang menolak karena ia meminta untuk tidur dengan gadis perawan tanpa harus menikahinya, akhirnya permintaan Dempo Awang dipenuhi oleh baginda raja. Dempo Awang juga meminta untuk dibuatkan perahu terbang. Permintaan itu juga dikabulkan karena ia adalah putra kesayangan raja.
Dempo Awang pun terbang ke negri Cina, disana ia juga berniat untuk merenggut semua perawan. Raja China menolak dan akhirnya terjadilah peperangan yang hebat, akan tetapi Cina bisa dikalahkan dan keperawanan gadis cina bisa direnggutnya.
Dempo Awang melanjutkan perjalanan dan sampailah di Jawa. Sebagian kerajaan berhasil dikuasai, hingga sampailah di Majapahit. Ia menyuruh pengawalnya untuk mengirim surat pada raja Sumenep. Dengan adanya surat itu Jokotole marah dan menyatakan perang.
Mendengar hal itu Dempo Awang sangat marah dan bergegas ke Sumenep. Melihat kedatangan Dempo Awang, Jokotole memenggil Megaremeng, kuda pemberian Adipoday. Diangkasa Jokotole dan Dempo Awang berperang dengan sangat dahsyat. Dalam peperangan itu Adirasa dan Adipoday datang untuk membantu Jokotole tetapi dalam keadaan tidak terlihat. Jokotole mengejar Dempo Awang hingga berada di lauatan, disana ia melemparkan cemeti dan hancurlah perahu Dempo Awang. Mendengar kekalahan putranya Raja Bermana datanng dengan pasukannya untuk melawan Jokotole. Peperangan bertambah ramai, sekali lagi Jokotole melemparkan cemetinya hingga terlemparlah Dempo Awang ke lautan dan kemenangan di pihak Jokotole. Mendengar kemenangan ini banyak kerajaan yang bangga pada Jokotole karena bisa mengalahkan musuh yang sangat berat.


M. Datangnya Sang Arjuna
Setelah perang melawan Dempo Awang, Adipoday berjalan perlahan ke Keraton Sumenep. Melihat ayahnya it u Jokotole dan istrinya langsung mneghormat pada Adipoday. Si Mbok yang melihat kejadian itu langsung memberitahukan kepada Raden Ayu Potre Koneng. Raden Ayu Potre Koneng langsung b ergegas menghampiri Adipoday dengan berlinangan air mata.
Setelah beberapa hari disana Adipoday mengajak Raden Ayu Potre Koneng untuk pergi ke Pulau Sepudi, disana mereka bertemu dengan orng tua Adipoday, tetapi tidak lama keduanya meninggal sehingga Adipoday menjadi Raja Sepudi. Kedua orang tua Adipoday dimakamkan di Desa Balinge dan disebut sebakai Panembangan Balinge.
Setelah menjadi raja cukup lama, Adipoday menduduki jabatan Panembangan dengan julukan Wirakrama. Akan tetapi tidak lama kemudian ia meninggal dan dimakamkan di Desa Nyamplong.
Sekarang keratin Sepudi hanya tinggal bekasnya saja yang terletak di Kampung Padaleman.
N. Wafatnya Jokotole
Jokotole memasuki masa tuanya dan memperbanyak bersemedi, sehingga pemerintahan diserahkan pada putranya yaitu Ario Wigananda ,sedangkan Patihnya adalah Ario Banyak Modang putra dari Banyak Wedi.
Jokotole tinggal disebuah rumah yang lengkap dengan tamannya yang terletak di desa lapataman, kecamatan dungklek kabupaten sumeneb. Selama menempati rumahnya itu dikabarkan Jokotole sakit, maka Ario Wigananda berniat mengajaknnya pulang ke kota Sumenep, awalnya menolak tetapi akhirnya mau juga. Jokotole berpesan bila nanti ia mati namanya ingin diabadikan sebagai nama Desa dan dimana pikulannya patah maka ia ingin dimakamkan disana. Diperjalanan Jokotole meninggal dan tempat itu dinamakan Batang-batang hingga sekarang. Kemudian jenazah dibawa kea rah gunung dan disana pikulannya patah. Maka disanalah ia dimakamkan.
Sebelumnya tidak ditemukan air untuk mensucikan jenazah, tapi Ario Wigananda teringat dengan tongkat pemberian ayahnya, ia menancapkan tongakt itu maka munculah sumber mata air dan hingga sekarang yang terdapat di Desa Lanjuk Kampung Saasa.
Sepeninggal Jokotole kraton Banasare di pindah ke Gapura. Maka munculah desa Gapura.
O. Pangeran Sedinglanggar Wafat
Ario Wigananda raja sumeneb mempunyai seorang putri, sedangkan Patih Banyak Modang punya dua orang putri dan dua orang putra. Tidak lama Patih Banyak Modang wafat. Dan digantikan putranya yaituTumenggung Tankodur.
Sementara putri Jokotole kawin dengan Sunan Padusan. Dan punya dua orang anak yaitu Nyai Malaka istri raden Fatah. Dan si bungsu menjadi istri pangeran sedinglanggar dan dijauniai seorang putra, tapi ketika sedang balajar merangkak ibunya meninggal karena sakit keras. Hati Pangeran Sedinglanggar sangat sedih. Suatu hari saat mengimami sholat dan dalam keadaan bersujud Pangeran Sedinglanggar meninggal dunia, anaknya diasuh oleh Sunan Padusan.
Konon nama Padusan diambil karena disana terdapat sungai yang digunakan mandi para raja yang mana banyak mata airnya disana. Sekarang sungai Paduasan dibuat dam untuk kegiatan irigasi sawah yang pembangunannya pada tahun 1912.

PENGURUS PUSAT LASKAR JOKOTOLE



Jajaran Pengurus Pusat Laskar Jokotole Yang Berdomisili Di Desa Palasa Kec. Talango Kabupaten Sumenep
Pulau Terpencil Dengan Seribu Cerita..

Gubes : RIDHO ARYA ARASPATI

Ketua 1 : Saprawi Al Farizi (Sang Pemburu)

Ketua 2 : Bustanol Arifin (Inol Pechenk)

Wakil Ketua 1 : Ghafur Wirapraja Dinata


Wakil Ketua 2: Qohrul Rijal


Sekretaris 1 : Rizal Prabu Anom

Sekretaris 2 : Ricky Aditya

Bendahara 1 : Agus Mafia Tunggal

Bendahara 2 : Khairul Senoputro

Ketua Humas : Iir Fernando (Pendekar Malam)

Wakil Ketua Humas : Ki Maddaus


Penasehat

Ki Anom Wari

    Ruszli Digantara Si Pangeran muda


                              Mbah Riswi

Ki Guntur Ireng







(Pendamping Pribadi Gubes)
MakMun Joko Segoro


Dandy Sang Penakluk


Redy Sang Pemburu

Rabu, 07 November 2018

KEGIATAN ISTIGHOSAH RUTIN LASKAR JOKOTOLE

Berikut Ini Adalah Foto Foto Kegiatan Rutin Tim Laskar Jokotole Yaitu Pembacaan 10.000 sholawat Nariyah Setiap Malam Selasa Dan Jum'at,,  Hanya Semata Mata Mengharap Ridho Allah S.W.T.





Lokasi : Asta Sayyid Yusuf Talango ( Makam Syekh yusuf)









Lokasi : Asta Ghumok (Kiai Brambang)  Marengan Daya, Kabupaten Sumenep








Lokasi : Asta (Bhujuk) Arpae
Desa Cabbiya, Kecamatan Talango